KONTEKSTUALISASI TEKS DALAM STUDI HADIS


Judul Buku : Aplikasi Penelitian Hadis: Dari Teks ke Konteks
Penulis : Dr. M. Alfatih Suryadilaga, M. Ag.
Penerbit : TH Press dan Teras, Yogyakarta
Tahun Terbit : Cetakan I April 2009
Tebal : viii + 244 Halaman

Jamak diketahui dan diyakini dalam hati umat Islam, jika hadis merupakan sumber otoritatif yang kedua setelah kitab suci al-Qur’an. Ia merupakan bentuk warta dari apa yang terjadi pada diri Nabi Saw., sebagai pembawa Islam yang dapat memahami sekaligus mengamalkan al-Qur’an secara sempurna. Sehingga, beliau dapat dijadikan uswah hasanah dalam kehidupan pengikutnya.
Sebagai sebuah warta, tentu ia tidak bisa terlepas dari setting sosio-historis di mana ia muncul kali pertama. Karena, secara fundamental, apapun yang dikatakan oleh seseorang akan berhubungan dengan obyek yang diajak bicara (mukhatab) dan di mana dia berbicara. Sehingga, untuk memahami sesuatu yang dibicarakan oleh seseorang tidak bisa dilepaskan dari setting yang mengitarinya.
Di era sekarang, peredaran hadits bukan lagi dalam bentuk verbal (dari mulut ke mulut), melainkan sudah dalam bentuk teks bahkan dalam bentuk digital. Secara kasat mata, ia datang kepada pembaca seakan tanpa iringan apapun juga. Akan tetapi, sacara di balik itu semua ia datang dengan iringan banyak hal yang terkait dengannya. Sehingga, untuk memahaminya tidak serta-merta dibaca secara literal, melainkan harus dibaca pula sesuatu yang mengitarinya.
Selain itu, bentangan ruang dan waktu yang sangat luas lagi panjang telah mengiringi laju perjalanan Islam, termasuk catatan hitam yang turut mewarnainya. Sehingga secara tidak langsung sejarah perjalanan hadis pun turut larut dalam perjalanan Islam itu sendiri. Pertanyaannya, apakah mungkin dengan perjalanan panjang dalam bentangan sejarah tersebut uatentisitas sebuah hadis masih dapat terjaga seperti sedia kala? Apakah mungkin hadis harus dipahami sebagaimana pemahaman umat Islam di era kemunculannya?
Dalam menjawab pertanyaan pertama, Alfatih menganggapnya telah usai dalam arti tidak lagi sesulit era al-Bukhari dan berbagai intelektual Islam lain semasanya. Karena pada saat ini bentuk dokumentasi hadis sudah sampai pada taraf digital yang cukup memberikan jalan mudah bagi para pengkajinya. Sedang dalam menjawab pertanyaan kedua sosok yang bernama lengkap M. Alfatih Suryadilaga ini menganggap perlu dilakukan untuk mendapatkan pemahaman proporsional dalam konteks kekinian. Inilah yang hendak diungkap dalam karyanya yang berjudul “Aplikasi Penelitian Hadis: Dari Teks ke Konteks”.
Buah pena yang dirileas pada April 2009 lalu ini dimaksudkan untuk memberikan nuansa yang berbeda perihal aplikasi penelitian hadis yang belum banyak dilakukan oleh para peminat studi hadis. Seperti persoalan pendekatan dan objek kajiannya. Dalam persoalan pendekatan, Doktor bidang studi hadis ini menggunakan perangkat keilmuan yang beragam, mulai dari sejarah, linguistis, antropologi, sosiologi, politik, gender, medis, bahkan sains dan teknologi. Sedangkan dalam objek kajiannya, Alfatih juga tidak lupa menyinggung persoalan living hadith, yang merupakan sisi objek studi hadis yang belum banyak dijamah. Sehingga, dengan pembacaan dengan model demikian, Alfatih berharap dapat menemukan bentuk pemahaman hadis yang kontekstualis, komprehensif, lagi proporsional.
Namun demikian, hal ini tentu bukanlah pekerjaan yang mudah bagi seorang pengkaji hadis. Karena, mau tidak mau, ia harus benar-benar mengusai seluruh perangkat keilmuan yang dibutuhkan. Mulai dari keilmuan hadis itu sendiri maupun ilmu-ilmu yang lain. Seperti sejarah, sosial-humaniora, kedokteran, bahkan teknologi. Pertanyaannya, apakah mungkin hal ini mampu dilakukan? Kalau toh memungkinkan, apakah akan menghasilkan bentuk kajian seideal yang diharapkan? Kemungkinan terkecil adalah dilakukan secara kolektif. Selain itu, jika bentuk kontekstualisasi dilakukan secara berlebihan, secara tidak langsung terjadi desaklarisasi teks hadis itu sendiri. Pada saat yang bersamaan, pada akhirnya teks tidak secara individu memunculkan maknanya, pengkaji akan melakukan hegemoni terhadap makna sebuah teks itu sendiri.
Terlepas dari kelebihan dan kekurangan tersebut, paling tidak kajian hadis model demikian sebagai jelmaan dari bentuk pemahaman integrasi dan interkoneksi dari paradigma keilmuan di mana buku ini ditulis. Sehingga, tentunya buku ini “seyogianya” (untuk tidak mengatakan wajib) dibaca dan diapresiasi oleh civitas akademika UIN Sunan Kalijaga pada umumnya, dan mahasiswa tafsir dan hadis, khususnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: