MEMUPUK SEMANGAT NAHḌAH DALAM SEMARAK HERMENUTIKA*


Oleh: M. Yahya Zakariya**

Judul Buku      : Hermeneutika al-Qur’an dan Hadis

Penulis             : Kurdi dkk.

Penerbit           : ELSAQ Press

Tahun Terbit    : Cetakan I Mei 2010

Tebal               : viii + 450 Halaman

Di Indonesia, istilah “Hermeneutika” erat kaitannya dengan istilah “Kafir”. Di samping diproduk di wilayah yang berbeda, keduanya juga bukan merupakan padanan kata (sinonim). Namun demikian, keduanya kerap diucapkan secara beriringan, di mana istilah pertama menjadi penyebab dari timbulnya istilah kedua. Hubungan kausalitas ini telah memakan banyak korban, seperti kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL), beberapa intelektual progresif terdepan Indonesia, dan bahkan kelembagaan IAIN/UIN. Hal tersebut terjadi acap kali disebabkan oleh pemahaman yang tidak komprehensif tentang sebuah istilah, selain mengendapnya fanatismen berlebihan, yang mengakibatkan seseorang memiliki close-minded paradigm.

Memang, tidak semua muslim Indonesia menolaknya secara membabi buta, ada pula yang menerimanya secara mutlak, dan juga menerimanya secara selektif. Jika dipahami dalam bingkai lexical meaning, secara mendasar istilah “Hermeneutika” sepadan dengan istilah “Tafsir”, yakni fassara, yufassiru, tafsiran (proses memahami). Sahiron Syamsuddin, editor buku ini, mengatakan dalam pengantarnya jika integrasi hermeneutika (hermeneutics) dalam arti luas menyakup hermeneuse (praktik penafsiran). Sedangkan dalam arti sempit disebut hermeneutics, yakni ilmu tentang metode-metode penafsiran, philosophical hermeneutics (hermeneutika filosofis), dan hermeneutical philosophy (filsafat hermeneutis).

Jika ditelusuri secara seksama, metode yang digunakan oleh para sahabat Nabi Saw., dalam menafsiri/memahami teks al-Qur’an dan hadis terbagi dalam dua madzhab, yakni tekstual yang dipelopori oleh Ibn Abbas, dan kontekstual, yang dipelopori oleh Umar bin al-Khattab. Di era tabi’in, para pegiat kaijian al-Qur’an mengenal istilah ahl al-hadis (tekstual) dan ahl-al-ra’y (kontekstual). Begitupun dalam horizon “Hermenutika”, terdapat madzhab objectivism, subjectivism, dan objectivism cum subjectivism. Dua madzhab pertama sepadan dengan tekstual dan kontekstual, sedangkan istilah ketiga gabungan dari keduanya. Pertanyaannya kemudian, kenapa istilah “Hermenutika” seakan menjadi “virus”, yang dapat memporak-porandakan ajaran Islam?

Buah karya antologi mahasiswa Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga ini hadir di tengah dialektika wacana studi al-Qur’an dan Hadis dalam rangka mengenalkan secara sederhana terkait dengan hermeneutika al-Qur’an dan hadis. Sebagaimana judulnya, di dalamnya tersaji berbagai pembahasan mengenai pandangan para sarjana muslim tentang bagaimana metode mamahami al-Qur’an dan Hadis. Di antara para sarjana tersebut di antaranya, Abu Hamid al-Ghazali, Fazlur Rahman, Mohammed Talbi, Nasr Hamid Abu Zayd, M. Abed al-Jabiri, Amina Wadud, M. Mojtahed Shabestari, M. Shahrour, Khaled Abou el-Fadl, Abdullah Saeed, Nurcholis Majid, Yusuf Qardlawi, dan Syuhudi Ismail. Penggunaan istilah “Hermeneutika” ini bukan dalam pengertian secara keseluruhan tokoh-tokoh tersebut memang menyebutnya sebagai metode dalam karyanya, akan tetapi lebih pada wilayah to same extand, sebagaimana yang diungkap oleh Editor. Seperti halnya al-Ghazali, dalam semua karyanya, termasuk mater peace­-nya Ihya’ ‘Ulum al-Din, ia tidak pernah menyebut jika metode penafsirannya berupa hermeneutik, akan tetapi apa yang menjadi konstruksi metodologisnya dalam penafsiran al-Qur’an memiliki kesamaan dengan apa yang ada dalam horizon hermeneutika, begitupun dengan Syuhudi Ismail, yang notabene merupakan ahli hadis terdepan dalam balantika pemikiran hadis di Indonesia.

Sasaran buku ini adalah para pemula kajian al-Qur’an dan Hadis sebelum membaca karya-karya orisinal mereka. Karena, dikaui atau tidak, banyak di antara mereka yang tidak menjelaskan secara eksplisit mengenai konstruksi metodologisnya. Seperti halnya al-Jabiri (W. 2010), meskipun karya serial diskursus al-Qur’annya berjumlah empat jilid, konstruksi metodologis pemikir Maroko ini tidak pernah ia ulas secara gamblang dan sistematis dalam karya tersebut. Sehingga, dengan membaca karya ini, paling tidak seorang pemula akan mengetahui abstraksi ringkas pemikian mereka.

Sebagai sebuah karya antologi yang dikodifikasi dari hasil presentasi kuliah, sudah barang tentu syarat dengan banyak kelemahan. Di antara berbagai kelemahan tersebut di antaranya, pertama, tidak diimbanginya dengan tokoh-tokoh yang menolak hermeneutik. Kedua, tidak ada penegasan dan penjelasan secara mendetail terlebih dahulu tentang horizon hermeneutika. ketiga, penyajiannya tidak tersusun dengan bentuk klasifikasi periodik, teritorial,  atau varian lain, sehingga pembaca akan lebih mudah dalam memetakannya. Keempat, sub-sub pembahasan pada masing-masing tokoh tidak seragam, seperti halnya pandangan mereka tentang al-Qur’an dalam bingkai ontologis, tidak semua tokoh diungkap, begitupun dengan sub-sub yang lain. Kelima, banyak nama-nama tokoh yang dalam artikel-artikel atau karya antologi yang terbit sebelumnya telah diulas dengan sajian yang tidak jauh berbeda, padahal banyak tokoh ternama lain yang belum tersentuh, seperti Salman Ghanim, Asma’ Barlas, dan lain sebagainya.

Namun demikian, sebagai sebuah karya, antologi ini tentu memiliki manfaat yang cukup besar dalam meningkatkan dinamika kajian al-Qur’an dan Hadis, secara khusus, dan studi Islam secara umum. Selain, menjadi semangat bagi mahasiswa-mahasiswa lain di lingkungan UIN Sunan Kalijaga, khususnya, dan PT pada umumnya untuk lebih meningkatkan wacana dengan cara menulis dan mempublikasikannya. Selamat membaca.

*Telah dipublikasikan sebelumnya pada Tabloid Sunan Kalijaga News Edisi VII/No.14/Juli-Agustus 2010

**Adalah Staf Div. Kajian dan Penelitian LSQH FUY UIN SuKa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: