SINTESISME RASIONALISME-EMPIRISME: MENGENAL KONSTRUKSI EPISTEMOLOGI IMMANUEL KANT


Oleh: M. Yahya Zakariya

A. Iftitah

Setelah beberapa hari mengembara dalam “alam rimba” (baca: filsafat)—yang bagi penulis merupakan sebuah alam yang penuh dengan “spekulasi”—penulis merasa bingung bagaimana harus memulai penulisan paper ini. Hingga di tengah sebuah aktivitas, penulis terusik dengan dua ayat al-Qur’an, yang dalam alam pikir penulis sangat kontradiktif jika dipandang dari aspek sumber pengetahuannya. Dua ayat tersebut adalah sebagai berikut:

وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِيِنَ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat, lalu Dia berseru: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!’”[2]

 

إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“….apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’, maka terjadilah ia.”[3]

 

Lepas dari objek pembicaraan dan ragam bentuk penafsiran kedua ayat tersebut, dalam konfigurasi epistemologi yang penulis bicarakan—ayat pertama lebih bersifat induktif, sedangkan ayat kedua deduktif.

Itulah kira-kira padanan kondisi arus filsafat Jerman, khususnya, dan Eropa, pada umumnya, kala itu. Lepas dari era renaisans (14-16 M), yang menjadi embrio kemerdekaan ilmu pengetahuan dari gurita hegemoni gereja, awal waktu “gerakan” Aufklaerung di Abad ke-18 merupakan konteks pembicaraan catatan singkat ini. Nampak jelas pada permulaan era modern (17-18 M), jika pertarungan madzhab rasionalisme dan empirisme menjadi sebuah keniscayaan. Di satu sisi sangat mendewakan akal, sedang di sisi yang lain sebaliknya, yakni meposisikan akal dalam ketidakberdayaan di depan pengalaman.[4] Dalam gegap-gempita pertarungan tersebut, muncul seorang filusuf Jerman bernama Immanuel Kant (kemudian disebut Kant), yang berusaha untuk menjembatani pandangan-pandangan dua madzhab di atas. Kemunculan Kant telah memberi nuansa baru bagi arus pemikiran masyarakat intelektual kala itu. Inilah masa yang disebut dengan kritisisme, sebuah teori pengetahuan yang diusahakan untuk mempersatukan kedua aliran di atas dalam satu hubungan yang seimbang dan tidak terpisahkan satu sama lain.

Dalam pada itu, catatan pendek ini disusun dalam rangka mengelaborasi aspek epistemologi madzhab kritisisme Kant. Di samping untuk memenuhi tugas akademik, catatan ini juga bertujuan untuk mencari sendi-sendi relevansi madzhab kritisisme dengan ilmu-ilmu sosial-keagamaan, sehingga tidak tercerabut dari akar studinya. Karenanya, pendahuluan dan sekilas tentang biografi Kant merupakan awal keberangkatan catatan ini. Pandangan Kant, dan perihal yang berhubungan dengannya, terhadap arus berfikir kala itu menjadi sajian sebelum penulis mengurai secara mendalam konstruksi epistemologinya. Sedangkan relevansinya bagi ilmu-ilmu sosial-keagamaan merupakan sajian akhir sebelum catatan ini ditutup dengan kesimpulan dan saran untuk the next readers.

B. Sketsa Singkat Biografi Kant

Di sebuah kota kecil bernama  Kőnigsberg (sekarang disebut Kaliningrad, Rusia), Prussia Timur, Jerman, pada tanggal 22 April 1724, seorang bayi laki-laki bernama Kant telah lahir dari rahim seorang perempuan bernama Frau Kant. Saat itu, Prusia Timur sedang dalam masa pemulihan dari keterpurukan kondisi yang disebabkan oleh perang dan wabah penyakit.[5] Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara sebuah keluarga miskin pembuat pelana kuda. Meski demikian, banyak yang mengatakan bahwa keluarganya terhitung sebagai Kristiani yang sangat saleh (Pietists), sebuah gerakan yang semula berasal dari aliran gereja Lutheran di Jerman pada abad ke-17, yang menekankan ajarannya pada kehidupan agama formal yang ortodoks.[6] Keyakinan agamanya itu sekaligus merupakan latarbelakang yang cukup penting bagi pemikiran filosofisnya, terutama masalah etika.[7]

Proses Pendidikan yang dilalui Kant tidak pernah keluar dari tanah airnya. Bisa dikatakan, ia merupakan produk dalam negeri yang mampu mendunia. Di Collegium Fridericianum, sekolah yang berlandaskan semangat Peitisme, Kant memulai pendidikan formalnya pada usia delapan tahun. Di sekolah tersebut ia dididik dengan disiplin sekolah yang keras. Sebagai seorang anak, Kant diajar untuk menghormati pekerjaan dan kewajibannya, suatu sikap yang kelak amat dijunjung tinggi sepanjang hidupnya. Di sekolah ini pula Kant mendalami bahasa latin, bahasa yang sering dipakai oleh kalangan terpelajar dan para ilmuwan saat itu untuk mengungkapkan pemikiran mereka.[8]

Pada tahun 1740, di mana ia telah berumur 16 tahun, Kant belajar di Universitas Kőnigsberg. Di Universitas itulah ia berkenalan baik dengan Maartin Knutzen (1713-1751), dosen yang mempunyai pengaruh besar terhadap Kant. Knutzen adalah seorang murid dari Christian von Wolff (1679-1754), dan seorang profesor logika dan metafisika.[9] Sepeninggal ayahnya yang tanpa mewariskan harta banyak,[10] selama 9 tahun (1746-1755) ia bekerja sebagai tutor pribadi kaum bangsawan di kota  Königsberg. Pada tahun 1755, di universitas tempat ia belajar, Kant memperoleh gelar Doktor dengan disertasi berjudul: Meditationum Quarundum de Igne Succinta Delineatino (Penggambaran Singkat dari Sejumlah Pemikiran Mengenai Api), sebuah karya yang juga di bidang ilmu alam.[11] Pada tahun dan di tempat itu pula ia diangkat menjadi dosen. Lima belas tahun kemudian (1770) ia dipromosikan menjadi Profesor pada bidang logika dan metafisika.[12]

Sejak mengajar di Universitas  Kőnigsberg, kehidupan Kant tidak pernah lepas dari mengajar, membaca, dan menulis. Buah penanya pun sangat beragam, tidak hanya dalam disiplin filsafat. Namun demikian, karya-karya pentingnya tentang filsafat di antaranya adalah sebagai berikut; Kritik der Reinen Vernunft (The Critique of Pure Reason, 1781), Prolegomena zu Einer Jeden Künftigen Metaphysik (Prolegomena to Any Future Metaphysics, 1783), Idee zu einer allgemeinen Geschichte (Idea for a Universal History, 1784), Grundlegung der Metaphysik der Sitten (Fundamental Priciples of the Metaphysics of the Moral, 1785), Metaphysische Anfangsgründe der Naturwissenschaft (Metaphysical Fondation of Natural Science, 1786), Kritik der Praktischen Vernunft (Critique of Practical Reason, 1787), Kritik der Urteilskraft (Critique of Judgment, 1790), Die Religion Innerhalb der Grenzen der Bloßen Vernunft (Religion within the Limits of Reason Alone, 1793), Zum Ewigen Frieden (Perpetual Peace, 1795), Die Metaphysik der Sitten (Metaphysics of Etics, 1797), dan Anthropologie in Pragmatischer Hinsicht Abgefasst (Antropology from a Pragmatic Point of View, 1798). Ragam karya tersebut tersebar di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Umumnya, meski Bertnand Russell tidak menyepakatinya, ia dianggap sebagai pemikir terbesar di antara filusuf modern.[13] Pada tahun 1804, Kant meninggal dunia di daerah kelahirannya.

C. “Keterlelapan Dogmatis”, Langkah Awal Pertaubatan

Menurut Joko Siswanto—sebagaimana dikutip oleh Maftukhin dan Alim Roswantoro—pemikiran Kant dapat dipetakan menjadi empat periode, yaitu:

 

Pertama, ketika ia masih berada di bawah bayang-bayang Leibniz-Wolf sampai tahun 1760. Periode pertama biasa disebut dengan periode rasionalistik. Kedua, berlangsung antara tahun 1760 sampai tahun 1770, yang ditandai dengan semangat skeptisisme, yang dikenal dengan periode empiristik, karena dominasi pemikiran empirisme Hume. Karya yang muncul adalah Dream of Spirit Seer. Ketiga, dimulai dari tahun 1770, yang dikenal dengan periode kritis. Karya yang muncul di antaranya adalah Kritik der reinen Vernutft (the Critique of Pure Reason) pada tahun 1781, yang kemudian direvisi pada tahun 1787; Prolegomena to Any Future Metaphysics (1785); Metaphysiical Foundation of Rational Science (1786); Critique of Practical Reason (1788); dan Critique of Judgment (1790). Keempat, berlangsung antara tahun 1790 sampai akhir hayatnya, 1804. Pada periode ini, perhatian Kant lebih pada persoalan-persoalan agama dan sosial. Karya yang terpenting adalah Religion Within the Boundaries of Pure Reason (1793); Religion Within Limits of Pure Reason (1794); dan sekumpulan essai yang berjudul Eternal Peace (1795).[14]

 

Dari empat periode tersebut dapat dipahami bahwa Gottfried Leibniz (1646-1716) dan David Hume (1711-1776) adalah di antara banyak filsuf yang mempunyai pengaruh besar terhadap pemikiran Kant, terutama dalam konstruksi epistemologinya. Terlebih Hume, Kant merasa bahwa pemikiran Hume-lah yang telah membangunkannya dari “keterlelapan dogmatis”.[15] Setelah membaca karya-karya Hume, Kant tidak lagi menerima prinsip-prinsip rasionalisme murni dan mulai meragukan aksioma ontologis. Namun, menurutnya masih ada yang belum selesai dari filsafat Hume, sehingga memecahkan pekerjaan rumah ini penting baginya untuk membangun filsafat baru.[16] Sementara Leibniz—dalam hal ini juga Wolff—meskipun Kant tidak mengambil alih pemikirannya, beberapa istilah teknis yang digunakan Kant berasal dari mereka, seperti a priori dan a posteriori.[17]

Leibniz-Wolff dan Hume bisa dikatakan sebagai wakil dari dua aliran pemikiran dalam konstelasi filsafat yang kuat melanda Eropa pada masa Pencerahan. Leibniz tampil sebagai tokoh penting dari aliran rasionalisme, sedangkan Hume muncul sebagai wakil dari aliran empirisisme. Dengan demikian, menjadi jelas jika epistemologi Leibniz bertentangan dengan epistemologi Hume. Leibniz berpendapat bahwa sumber pengetahuan manusia adalah rasionya saja, dan bukan pengalaman. Dari sumber sejati inilah bisa diturunkan kebenaran yang umum dan mutlak. Sedangkan Hume mengajarkan bahwa pengalamanlah sumber pengetahuan itu. Pengetahuan rasional mengenai sesuatu terjadi setelah sesuatu itu dialami terlebih dahulu.[18] Dalam pada itu, Filsafat Kant berusaha mengatasi dua aliran tersebut dengan menunjukkan unsur-unsur mana dalam pikiran manusia yang berasal dari pengalaman dan unsur-unsur mana yang terdapat dalam akal. Berawal dari kesadaran tersebut, meminjam bahasanya Alim, Kant dikenal sebagai pengkritik sekaligus pemandu dua aliran besar dalam balantara filsafat.

D. Madzhab Kritisisme: Tawaran Epistemologis

Tidaklah berlebihan memang, jika cacatan ini berjudul; “Sintesisme Rasionalisme-Empirisme”, karena kritisisme merupakan madzhab yang dibentuk untuk menaggulangi dua aliran besar dalam filsafat yang kontradiktif. Misi yang dilakukan Kant dalam madzhab ini adalah mengubah wajah filsafat secara radikal, di mana ia melakukan sentralisasi pada diri manusia sebagai subjek berpikir. Implikasinya, Kant tidak mengawali dengan investigasi atas benda-benda sebagai objek, melainkan investigasi terhadap struktur-struktur subjek yang memungkinkan mengetahui benda-benda sebagai objek. Sebab, diakui atau tidak, pengetahuan lahir karena manusia dengan akalnya secara aktif mengkonstruksi gejala-gejala yang dapat ia tangkap. Upaya-upaya filosofis Kant ini dikenal dengan kritisisme atau filsafat kritis.

  1. Sumber dan Hakikat Pengetahuan

Kritisisme adalah sebuah teori pengetahuan yang berusaha untuk mempersatukan kedua macam unsur dalam filsafat rasionalisme dan empirisme dalam suatu hubungan yang seimbang, yang satu tidak terpisahkan dari yang lain.[19] Menurut Kant, sebagaimana dikutip Nuchelsmans, pengetahuan merupakan hasil akhir dari adanya kerjasama dua komponen, yaitu di satu pihak berupa bahan-bahan yang bersifat pengalaman (baca: persepsi) inderawi, dan di lain pihak cara mengolah kesan-kesan yang bersangkutan  sedemikian rupa (baca: konseptualisasi) sehingga terdapat suatu hubungan antara sebab dan akibatnya.[20] Persepsi inderawi pada dirinya—terlepas dari konseptualisasi—baru merupakan bahan mentah bagi pengetahuan. Baik objek fisik yang disadari dalam persepsi langsung maupun gambaran terindra atau “fantasi” yang menghadirkan kesadaran objek fisik yang sebelumnya pernah secara langsung dan indrawi alami, keduanya mengandung kemungkinan untuk dimengerti dan diketahui. Konseptualisasi pada dirinya—terlepas dari kategori dan putusan (judgment)—baru memungkinkan kita untuk memikirkan bahan mentah yang disediakan oleh pengindraan dan persepsi. Konseptualisasi adalah awal pengertian, karena konseptualisasi secara tentatif dan hipotesis menggolongkan dan menghubungkan apa yang dialami secara inderawi sebagai sesuatu dengan sebutan tertentu. Dalam pada itu, konseptualisasi perlu diverifikasi atau diuji kebenarannya. Selanjutnya, jika tersedia bukti atau alasan yang memadai untuk menjamin penegasan bahwa memang demikian, maka proses mengetahui mencapai tujuan akhirnya, yakni membuat klaim kebenaran. Dalam pengertian ini, klaim kebenaran disebut dengan judgment. Singkatnya, konseptualisasi dilakukan dalam rangka membuat suatu putusan (judgment).[21]

Secara tradisional, putusan dipahami memiliki dua peran, yakni “menggabungkan” subjek dengan predikat dan “memisahkan” subjek dari predikat. Peran pertama membuat proposisi afirmatif dan yang kedua negatif.  Dalam konteks pembicaraan Kant, paling tidak terdapat tiga model putusan: Pertama, putusan analitis a priori (a priori analytical judgment), di mana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya, misalnya setiap benda menempati ruang; Kedua, putusan sintesis aposteriori (aposteriori sintetical judgment), di mana predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman inderawi. Misalnya pernyataan “meja itu bagus”, putusan predikat “bagus” dihubungkan dengan subjek “meja” didasarkan atas pengalaman inderawi yang tentunya sebelumnya pernah melihat meja yang lain (baca: proses perbandingan); Ketiga, putusan sintesis a priori (a priori sintetical a priori), misalnya segala kejadian mempunyai sebabnya. Putusan model demikian berlaku umum dan mutlak (a priori) dan bersifat sintetis aposteriori, karena dalam pengertian “kejadian” belum dengan sendirinya tersirat pengertian “sebab”. Maka dalam putusan ini, baik akal maupun pengalaman inderawi dibutuhkan serentak. Menurut Kant, sebagaimana dilansir Muslih, jenis putusan ketiga inilah syarat dasar bagi apa yang disebut pengetahuan (ilmiah) dipenuhi, yakni bersifat umum dan mutlak serta memberi pengetahuan baru.[22]

Ringkasnya, pengetahuan rasional bersifat universal, tetapi tidak memberikan informasi baru. Sedangkan pengetahuan empiris dapat memberikan informasi baru, tetapi kebenarannya tidak universal. Sementara bagi Kant pengetahuan seharusnya sintesis a priori, yakni pengetahuan yang bersumber dari rasio dan empiri yang sekaligus bersifat a priori dan a posteriori. Dengan hanya mementingkan salah satu dari kedua aspek sumber pengetahuan, dalam pandangan Kant—sebagaimana dilansir Rizal—tidak akan diperoleh pengetahuan yang kebenarannya bersifat universal sekaligus dapat memberikan informasi baru.[23] Sedangkan bagi dirinya, sekali lagi, ciri pengetahuan adalah bersifat umum, mutlak dan memberi pengertian baru.

2. Sintesisme: Metode Memperoleh Pengetahuan

Dalam pandangan Kant, pengetahuan merupakan sintesis dari unsur yang ada sebelum pengalaman, yakni unsur-unsur a priori, dengan unsur-unsur yang ada setelah pengalaman, yakni unsur-unsur aposteriori. Proses sintesis tersebut, menurut Kant terjadi dalam tiga tingkatan pengetahuan manusia. Tingkat pertama dan terendah adalah pencerapan indrawi, lalu tingkat akal budi, dan tingkat tertinggi adalah tingkat rasio (intelek).

2. 1. Tingkat Pencerapan Indrawi

Dalam tingkatan ini, sintesis antara unsur a priori dengan unsur a posteriori telah terjadi. Unsur a priori, dalam tingkatan ini disebut dengan ruang dan waktu.[24] Dengan unsur ini, benda-benda objek pencerapan menjadi “meruang” dan “mewaktu”. Pengertian Kant mengenai ruang dan waktu ini berbeda dengan ruang dan waktu dalam pandangan Newton. Jika Newton menempatkan ruang dan waktu “di luar” manusia, namun bagi Kant keduanya adalah a priori sensibilitas. Dalam pengertian, keduanya sudah berakar di dalam struktur subjek. Ruang bukanlah ruang kosong, yang ke dalamnya suatu benda bisa ditempatkan; ruang bukan merupakan “ruang pada dirinya sendiri”. Begitupun waktu, ia bukanlah arus tetap, di mana penginderaan-penginderaan berlangsung, tetapi ia merupakan kondisi formal dari fenomena apapun, dan bersifat a priori. [25]

Implikasi pandangan tersebut menegaskan adanya realitas yang terlepas dari subjek. Menurut Kant, memang ada “Benda yang ada pada dirinya sendiri” (in it self), tetapi realitas ini tidak bisa diamati atau diselidiki. Sesuatu yang bisa diamati dan diselidiki hanyalah fenomen-fenomen atau penampakan-penampakannya saja, yang merupakan sintesis antara unsur-unsur yang datang dari luar sebagai materi dengan bentuk-bentuk a priori ruang dan waktu di dalam struktur pemikiran manusia.[26]

2. 2. Tingkat Akal Budi

Bersamaan dengan proses pertama, bekerjalah akal budi secara spontan. Tugas akal budi adalah menyusun dan menghubungkan data-data inderawi, sehingga menghasilkan putusan-putusan. Dalam pada itu, akal budi bekerja dengan bantuan daya fantasinya. Pengetahuan akal budi baru diperoleh ketika terjadi sintesis antara pengalaman indrawi tadi dengan bentuk-bentuk a priori yang disebut Kant dengan “kategori”, yakni ide-ide bawaan yang mempuyai fungsi epistemologis dalam diri manusia.[27]

Dalam menerapkan kategori-kategori ini, akal budi bergerak sedemikian rupa, sehingga kategori-kategori tersebut hanya sesuai dengan data-data yang dikenainya saja. Misalnya peristiwa memasak air; setelah dipanaskan dengan api, ternyata kemudian air di dalam bejana mendidih, maka akal budi akan bekerja dengan menerapkan kategori kausalitas terhadap fenomen-fenomen itu; dan lantas membuat pernyataan, “Air di dalam bejana itu mendidih karena dipanaskan dengan api”. Dengan demikian terjadilah sintesis antara unsur-unsur aposteriori, yakni data indrawi yang berfungsi sebagai materi (Api membakar bejana berisi air, air itu mendidih) dan unsur a priori yang berfungsi sebagai bentuk (kategori kausalitas). Dengan demikian Kant tampak juga menjelaskan keabsahan ilmu pengetahuan alam.

2. 3. Tingkat intelek/Rasio

Menurut Kant, yang dimaksud dengan intelek atau rasio adalah kemampuan asasi, yang menciptakan pengertian-pengertian murni dan mutlak, karena rasio memasukkan pengetahuan khusus ke dalam pengetahuan yang bersifat umum. Di dalamnya, manusia dapat bergerak lebih jauh sampai menyentuh azas-azas yang tidak lagi dapat dirunut. Dengan demikian, sampailah kepada sesuatu yang mutlak, tanpa syarat, di mana yang mutlak itu adalah Idea. Kant menyebut dengan idea transendental, yaitu yang menguasai segenap pemikiran sebagai idaman.[28]

Sifat idea tersebut semacam indikasi-indikasi kabur, petunjuk-petunjuk atas pemikiran. Seperti kata “barat” dan “timur” merupakan petunjuk-petunjuk; “timur” an sich tidak pernah bisa diamati, begitupun dengan “barat” an sich. Kinerja intelek adalah menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan pada tingkat di bawahnya, yakni akal budi dan tingkat pencerapan indrawi. Dengan kata lain, intelek dengan idea-idea argumentatif.

Kant membagi ide transendental menjadi tiga macam. Pertama, Ide psikis (jiwa), ykni gagasan mutlak yang mendasari segala gejala batiniah. Kedua, ide konsmologis, yakni gagasan yang menyatukan segala gejala lahiriah. Ketiga, ide teologis, yaitu gagasan yang mendasari segala gejala, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah, di mana hal itu terdapat dalam suatu pribadi yang mutlak, yakni Tuhan sebagai Ide Teologis.[29]

Meskipun Kant menerima ketiga macam ide tersebut, bagi dirinya ketiga hal itu tidak bisa diketahui melalui pengalaman. Karena pengalaman, menurut Kant, hanya terjadi di dalam dunia fenomenal, padahal ketiga ide itu berada di dunia noumenal, dunia gagasan, dunia batiniah. Ide mengenai jiwa, dunia, dan Tuhan bukanlah pengertian-pengertian tentang kenyataan inderawi, bukan “benda pada dirinya sindiri” (das Ding an sich). Ketiganya merupakan postulat atau aksioma-aksioma epistemologis yang berada di luar jangkauan pembuktian teoretis-empiris.[30] Nampaknya, di sinilah pemikiran ketuhanan Kant bisa diposisikan. Tuhan sebagai postulat yang dengannya rasio murni ‘bekerja’ menghasilkan pengetahuan murni dan mutlak.

 

E. Menengok Tradisi Pengetahuan Islam (Baca: Muslim) via Kritisisme Kant

Ada dua hal yang ingin penulis baca dalam sub bab ini, yaitu aspek sintesis atas rasionalisme-empirisme dan kemungkinan akal untuk mengetahui dunia fenomenal, bukan noumenal. Pada aspek pertama, penulis hendak memberikan gambaran konstruksi epistemologi uṣūl fiqh-nya al-Syāṭibī (w. 1388 M.),[31] di mana dalam pandangan penulis nalar yang dipakai memiliki corak rasional-induktif (rasional-empiris). Sedangkan pada aspek kedua, penulis akan mengambil ulasan Alim Roswantoro terkait persoalan Islam in it self (Islam noumena) dan Islam fenomena.

  1. Al-Syāṭibī dan Uṣūl Fiqh -nya

Berkaitan dengan peranan akal dan indera dalam konstruksi disiplin uṣūl fiqh, al-Syāṭibī menggap keduanya seimbang. Sistem penalaran yang dipakai dalam menangkap maqāṣid al-syāri adalah induksi-tematis, di mana kerangka kerjanya berupa mengumpulkan ayat yang setema, kemudian melakukan penalaran induktif atas ayat-ayat tersebut. Akal, dalam pandangannya, berperan besar dalam empat kinerja memproduk hukum, yaitu semantik, silogisme, induksi, dan menangkap maqāṣid al-syāri.[32]

Semantik merupakan produk murni rasio manusia kemudian disosialisasikan dan akhirnya menjadi kesepakatan-kesepakatan.[33] Semantik bukan tawqifī dari Tuhan, tetapi murni produk rasio manusia, walaupun tentu atas restu Tuhan. Kaitannya dengan al-Qur’an dan hadis, semantik berpijak pada kedah tata bahasa Arab. Melalui semantik na dipelajari, bentuk-bentuk kata dan implikasinya terhadap makna yang dikandungnya, seperti bentuk perintah dan implikasinya serta bentuk larangan dan implikasinya.[34] Melalui proses ini, maka makna eksplisit na dapat diungkap secara mendalam.

Silogisme digunakan untuk menemukan kebenaran dengan cara menyimpulkan dua premis, yakni premis mayor dan minor.[35] Premis mayor berupa dalil naql, sedang premis minor berupa hasil penyelidikan ilmiah terhadap kasus-kasus tertentu (realitas sosial). Premis mayor berbasis pada khabar (naql), sedangkan premis minor berbasis pada taqīq al-mana, yakni ujicoba empiris rasional, ada atau tidaknya illat (sebab) suatu hukum yang melekat pada suatu kasus. Keseimbangan peranan akal atau rasio dan indera dalam kinerja ini sangat dibutuhkan.[36]

Sementara induksi (al-istiqra’), adalah kinerja yang dilakukan dengan penelitian terhadap makna ayat-ayat yang setema untuk menangkap ide sentralnya. Cara kerja ini disebut dengan al-Istiqra’ al-manawī.[37] Misalnya penelitian terhadap ayat-ayat yang menunjukkan atas ke-ujjah-an istisān, malaah mursalah, kewajiban menjaga keselamatan lima hal (agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta), dan lain-lain. Kerangka dasar yang perlu dicatat dari semua kinerja tersebut adalah dilakuakan dalam kerangka mengungkap maksud Syāri (Allah), Sang Pencipta Hukum. Jadi, tidak semata-mata menela’ah indikasi tekstual yang terbatas jumlahnya dan melupakan maksud esensi Syari, tetapi mengacu pada maksud Allah dan menurunkan hukum. Tujuan Allah menurunkan syari’at ke dunia ini dalam rangka menjaga kemaslahatan manusia baik di dunia maupun diakhirat. Kemaslahatan itu tidak lebih dari tiga macam, yaitu kemaslahatan primer (arūriyyah), sekunder (ḥajiyyah), dan tersier (tasīniyyah).[38]

Apa yang menjadi titik tekan penulis dalam hal ini adalah bahwa dalam konstruksi epistemologis filsafat hukum Islam ala al-Syāṭibī, sumber pengetahuan tidak hanya diperoleh dari teks yang ditangkap oleh indera, tetapi juga rasio. Keduanya berkelindan satu sama lain yang diproses dalam kategori-kategori guna menghasilkan putusan, yang dalam hal ini adalah hukum Islam.

b. Islam Noumena dan Islam Fenomena[39]

Berbicara Islam dengan kerangka berfikir Kantian, paling tidak perlu menggaris bawahi dua realitas Islam, yakni Islam noumena dan Islam fenomena. Noumena dalam kerangka Kantian bukan merupakan objek pengetahuan dalam pengalaman mungkin kita, tetapi ia menjadi dasar bagi semua pengalaman kita. Oleh karena itu, kata Alim, Islam noumena tidak akan pernah bisa menjadi objek pengetahuan, tetapi bukannya ia tanpa makna karena bagaimanapun ia menjadi dasar bagi semua pengalaman keislaman (Islam fenomena). Dalam kerangka Kantian, pengetahuan yang mungkin adalah di wilayah fenomena, di dalam pengalaman kita yang mungkin itu sendiri. Karenanya, Islam fenomena menjadi satu-satunya objek yang mungkin bagi pengetahuan.

Doktrin keislaman murni dalam teks suci barangkali menjadi kategori-kategori dasar yang memungkinkan seseorang dapat mengetahui serta membangun pengetahuan tentang keislaman. Akan tetapi, konsep keislaman murni itu juga memiliki meliu-meliu induktifnya yaitu kehidupan fenomenal yang menyertai kelahirannya. Karenanya, pengetahuan keislaman yang mungkin adalah jauh dijangkau dan disintesiskannya data-data dan informasi-informasi keislaman seseorang dalam dunia fenomenal keislaman. Hakikat akal menjadi batas bagi kemungkinan pengetahuan Islam seseorang. Dengan kata lain, tidak mungkin bisa mengetahui Islam in it self, karena pengetahuan keislaman seseorang selalu sebatas data-data dan informasi-informasi yang dia miliki tentang Islam.

Dalam realitas kehidupan beragama, umat Islam—bahkan semua agama—cenderung mempetakan diri mereka ke dalam aliran-aliran keislaman, yang kadang sangat ekstrim. Aliran-aliran ekstrim ini acap kali menganggap bahwa pengetahuan keislaman di luar kelompoknya is non-sense—bahkan sesat dan lebih kejam lagi murtad—sehingga yang terjadi seringkali adalah pemaksaan dogma-dogma kelompok. Jika dilihat dari kerangka teoritik Kantian, hal ini terjadi karena mereka mengklaim mengetahui Islam in it self, padahal pemahaman kelompok terkait hanyalah sebatas kemampuannya mensintesiskan data-data keislaman yang bisa ditangkap dan diolah. Aliran keislaman ekstrim tersebut tidak akan mungkin muncul, apabila disadari bahwa selamanya seseorang tidak akan pernah bisa mengetahui Islam noumena atau Islam in it self, dan yang bisa kita ketahui hanyalah Islam fenomena. Kedewasaan pengetahuan keislaman seseorang sudah barang tentu tergantung pada banyak dan luasnya fenomena keislaman yang bisa ia jangkau.

F. Takhtim

Dari pemaparan di atas, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Dalam sejarah filsafat Barat, Kant memiliki posisi yang cukup diperhitungkan. Karena dengan tawaran kritisismenya, ia memiliki kontribusi besar atas usahanya dalam mngawinkan dua madzhab filsafat besar, yakni rasionalisme dan empirisme.;
  2. Pengetahuan rasional bersifat universal, tetapi tidak memberikan informasi baru. Sedangkan pengetahuan empiris dapat memberikan informasi baru, tetapi kebenarannya tidak universal. Sementara bagi Kant pengetahuan seharusnya sintesis a priori, yakni pengetahuan yang bersumber dari rasio dan empiri yang sekaligus bersifat a priori dan a posteriori. Proses sintesis tersebut, menurut Kant terjadi dalam tiga tingkatan pengetahuan manusia. Tingkat pertama dan terendah adalah pencerapan indrawi, lalu tingkat akal budi, dan tingkat tertinggi adalah tingkat rasio (intelek).; dan
  3. Apa yang menjadi konstruksi epistemologi pengetahuannya jika dikaitkan dengan tradisi pengetahuan Islam—dalam batasan contoh penulis—masih relevan.

Sudah barang tentu apa yang telah dieksplorasi dalam catatan singkat ini jauh dari kesempurnaan. Nampak jelas, seperti logika transendental, filsafat moral, dan bahkan contoh dari ragam kategori maih belum terungkap. Paling tidak, hal tersebut menjadi peluang bagi pengkaji selanjutnya untuk sama-sama melengkapi dan meramaikan panggung wacana filsafat berikut relevansinya dengan studi-studi keislaman.

Wa Allāh A‘lam bi al-Ṣawāb

 

[1]Disampaikan pada kuliah Filsafat Ilmu: Topik-topik Epistemologi bersama Dr. Alim Roswantoro di kelas B Prodi Agama dan Filsafat Konsentrasi Studi al-Qur’an dan Hadis (SQH) Angkatan 2010.

[2]Q.S. Al-Bāqarah, [2]: 31.

[3]Q.S. Yāsin, [36]:82.

[4]Ciri-ciri pokok dari madzhab rasionalisme adalah; 1. Adanya pendirian bahwa kebenaran-kebenaran yang hakiki itu secara langsung dapat diperoleh dengan menggunakan akal sebagai sarananya; dan 2. Adanya suatu penjabaran secara logis atau deduksi yang dimaksudkan untuk memberikan pembuktian seketat mungkin mengenai lain-lain segi dari seluruh sisa bidang pengetahuan berdasarkan atas apa yang dianggap sebagai kebenaran-kebenaran hakiki tersebut. Sementara itu, penganut madzhab empirisme menentang pendapat tersebut. Menurut mereka (madzhab empirisme), metode ilmu pengetahuan bukanlah bersifat a priori, tetapi a posteriori, metode yang berdasarkan atas hal-hal yang datang atau terjadinya atau adanya kemudian. Baca: Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 73-81.

[5]Baca, Paul Stratherent, 90 Menit Bersama Kant (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2001), hlm. 3-4.

[6]Ibid. 5. Lihat juga dalam Lewis White Beck, “Kehidupan dan Karya Kant” dalam Immanuel Kant, Dasar-dasar Metafisika Moral, terj. Roby H. Abror (Yogyakarta: Insight Reference, 2004), hlm. xxxvii.

[7]Maftukhin, “Etika Imperatif-Kategoris Kant”, dalam Filsafat Barat: Dari Logika Baru Rene Descartes Hingga Revolusi Sains ala Thomas Khun (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group, 2007), hlm. 67.

[8]Mohamad Muslih, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Belukar, 2008), hlm. 69.

[9]Ibid., 70.

[10]Sedang Ibunya meninggal Sembilan tahun sebelumnya, yakni pada tahun 1737.

[11]Ibid.

[12]Maftukhin, loc. Cit.

[13]Bertnand Russel, Sejarah Filsafat Barat: Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik Zaman Kuno Hingga Sekarang, terj. Sigit jatmiko dkk., (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 920.

[14]Maftukhin, op. Cit. 67-68.; dan Alim Roswantoro, “Logika Transendental Kant dan Implikasinya Bagi Kemungkinan Pengetahuan Islam” dalam Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies, Vol. 38, No. 2, Tahun 2000, hlm. 395. Baca ulasan Joko Siswanto pada Joko Siswanto, Sistem Metafisika Barat: Dari Aristoteles Sampai Derrida (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 57. Bandingkan dengan Bertenz yang membagi perkembangan filsafat Kant ke dalam dua periode, yaitu periode pra-kritis dan kritis. Pemetaan ini didasarkan atas fakta bahwa filsafat Kant sebelum bertemu dengan Hume, ketika nama Wolff dan Lebniz mendominasinya, masih sangat bersifat rasionalis-dogmatis-spekulatif. Corak filsafatnya berubah menjadi kritis setelah pertemuannya dengan Hume. Baca: K. Bertenz, Ringkasan Sejarah Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1995), hlm. 59.

[15]Lihat, Bertnand Russel, loc. Cit.

[16]Alim Roswantoro, op. Cit, hlm. 394.

[17]Telusuri lebih lanjut dalam, Robert Cummins and David Owen (ed.), Central Readings in the History of Modern Philosophy: Descartes to Kant (Belmont: Wasworth Publishing Compeny, 1999), hlm. 79-110 dan 325-392.

[18]Kant menyebut perdebatan pandangan ini dengan istilah antinomy. Lihat: AV. Kelly, MA (ed.) Philosophy Madec Simple (London: Laxon Heinenaan, 1982), hlm. 137.

[19]Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, op. Cit., hlm. 82.

[20]G. Nuchelsmans, “Filsafat Pengetahuan, dalam Berfikir Secara Kefilsafatan, Editor dan Alih Bahasa: Sujono Sumargono (Yogyakarta: Nur Cahaya, 1984), hlm. 109-110.

[21]Kant mengatakan, “Judgment, therefore, is the mediate cognition of an object, consequently the representation of a representation of  it”, Penyebutan demikian karena putusan sebenarnya meruapakan pereduksian atas semua tindakan mengetahui, sehingga pemahaman dipresentsasikan sebagi the faculty of judgment. Periksa lebih lanjut, Immanuel Kant, Critique of Pure Reason (New York: Bufallo, 1990), hlm. 55.

[22]Mohamad Muslih, op. Cit.,…, hlm. 74.

[23]Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, op. Cit., hlm. 83.

[24]Immanuel Kant, op. Cit., hlm. 60.

[25]Dalam persoalan ruang, Kant mengatakan, “Space is no discursive or, as we say, general conception of the relations of things, but a pure intuition…”, “Space does not represent any property of objects as things in themselves…”, “Space is nothing else then the form of all phenomena of the external sense, that is, the subjective condition of the sensibility, under wich alone external intuition is possible”. Sedangkan mengenai waktu ia mengatakan, “Time is not an empirical conception…”, “Time is not formal condition a priori of all phenomena whatsoever…” Lihat lebih jauh, Ibid., 23-32.

[26]Lihat, Alim Roswantoro, op. Cit., 405-407. Lihat juga beberapa ulasan beserta contoh-contoh yang disajikan oleh Kant dalam,  Immanuel Kant, op. Cit., hlm. 156-157.

[27]Jika diabstraksikan semua kandungan dari suatu putusan (pemikiran) dan memperhatikan bentuk intelektual semata, kata Kant, maka kita temui bahwa fungsi-fungsi pemikiran dalam suatu putusan dapat disebutkan kepada empat golongan yang masing-masing mengandung tiga momenta, yaitu: 1. Quantity: Universal, particular, dan singular; 2. Quality: Affirmative, Negative, dan Infinite; 3. Relation: Categorical, hypothetical, dan disjunctive; 4, Modality: Problematical, assertoric, dan apodictical. Immanuel Kant, Ibid., hlm. 55-56. Lihat juga, Alim Roswantoro, op. Cit., hlm. 397-403.

[28]Idea ini, kata Kant sebagaimana dikutip Muslih, bersifat intelligible, clear, and dicive… the transcendental ideas therefore express the peculiar application of reason as a principle of systematic unity in the use of understanding. Muhammad Muslih, op. Cit. hlm. 76. Periksa, Immanuel Kant, Prolegomena to Any Future Metaphysics, terj, Paul Carus (Cambridge: Hackett Publishing Company, 1977), hlm. 89-90. Lihat juga ulasan Alim Roswantoro mengenai hal tersebut, Alim Roswantoro, op. Cit., hlm. 407-410.

[29]Muhammad Muslih, op. Cit. hlm. 76-77.

[30]Ibid., 77.

[31]Ia bernama lengkap Ibrāhim bin Mūsā al-Lakhmī al-Gharnaṭī yang lebih dikenal dengan Abū Isḥāq al-Syāṭibī. Granada, Andalusia (sekarang Spanyol) merupakan sebuah saksi bisu dari kredibilitas al-Syāṭibī. Ia hidup di era keemasan Granada semasa dengan Ibn Khaldun, yang pada saat itu tonggak kekuasaan pemerintah dipimpin oleh Sultan Muḥammad V al-Gānī Billāh. Sebagai seorang ilmuan, al-Syāṭibī banyak menelorkan karya di berbagai bidang, seperti bahasa, hukum Islam, hingga kedokteran. Karya ternama di bidang filsafat hukum Islam adalah al-Muwāfaqāt. Kitab tersebut saat ini dicetak oleh dan di banyak negara serta di baca oleh khalayak public, termasuk masyarakat pesantren di Indonesia. Setelah sekian lama melakukan pengembaraan intelektual, al-Syāṭibī wafat pada hari Senin pada tanggal 8 Sya‘ban 790 H./30 Agustus 1388 M. Lihat, Muhyar Fanani, Ilmu Ushul Fiqh di Mata Filsafat Ilmu (Semarang: Walisongo Press, 2009), hlm. 73-80.

[32]al-Syāṭibī, al-Muwāfaqāt (Bairut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tt), juz III, hlm. 43.

[33]Ibid., Juz III, hlm. 61. Dalam bahasa Inggris disebut dengan semantics (Latin: semantikos [berarti] semainen [mengartikan], dan sema [tanda]). Semantik dalam pengertian disiplin keilmuan didefinisakan dengan ilmu tentang hubungan simbol-simbol linguistik dengan hal-hal yang lain dari simbol-simbol itu sendiri dengan mengacu kepada: 1. Apa yang mereka artikan; dan 2. Apa yang mereka acu. Pada mulanya, semantik erat kaitannya dengan teknis filologi yang ditunjukan pada studi historis, berorientasi empiris, tentang perubahan-perubahan makna dalam perkataan (naskah). Dalam filsafat, semantika dianggap sebagai bagian dari studi tanda-tanda (hubungan tanda dan objek yang ditandakan) bersama dengan sintaktika dan pragmatika, namun dalam perkembangannya, sebagimana pandangan Noam Chomsky, semantika dianggap bagian integral dari analisis gramatikal. Baca, Lorens Bagus, op. Cit., hlm. 981-984.

[34]Baca, al-Syāṭibī, Ibid., II, 2-3.

[35]Dalam tradisi Arab (Baca: Islam) biasa disebut dengan al-Istintāj dan al-Qiyās al-Jāmi‘. Muhyar Fanani, Ilmu Ushul Fiqh…, op. Cit., hlm. 82. Dalam bahasa Ingrris disebut dengan syllogism (Latin: syllogismos [penggabungan, penalaran]; rankaian dari syn [dengan, bersama] dan logizesthai [menggabungkan, menyimpulkan dengan penalaran]). Dalam tradisi filsafat terdapat, paling tidak, tiga bentuk; yaitu silogisme kategoris, hipotesis, dan disjungtif. Periksa lebih jauh, Lorens Bagus, op. Cit., hlm. 999-1007.

[36]Periksa, M. ‘Ābed al-Jābirī, Binyah al-‘Aql al-‘Arabī (Beirut: al-Markaz al-Ṡaqafī al-‘Arabī, 1993), hlm. 539.

[37]al-Syāṭibī, loc. Cit.

[38]Ibid., 3-4.

[39]Bagian ini diperas dari ulasan Alim Roswantoro dalam artikelnya. Lihat, Alim Roswantoro, op. Cit., hlm. 411-413.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bertenz, K. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1995.

Cummins. Robert and David Owen (ed.). Central Readings in the History of Modern Philosophy: Descartes to Kant. Belmont: Wasworth Publishing Compeny, 1999.

Fanani, Muhyar. Ilmu Ushul Fiqh di Mata Filsafat Ilmu. Semarang: Walisongo Press, 2009.

Jābirī, M. ‘Ābed al-. Binyah al-‘Aql al-‘Arabī. Beirut: al-Markaz al-Ṡaqafī al-‘Arabī, 1993.

Kant, Immanuel. Critique of Pure Reason. New York: Bufallo, 1990.

_____________. Dasar-dasar Metafisika Moral. Terj. Roby H. Abror. Yogyakarta: Insight Reference, 2004.

Muslih, Muhammad. Filsafat Ilmu: Kajian atas Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Belukar, 2008.

Mustansyir, Rizal dan Misnal Munir. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

Nuchelsmans, G. “Filsafat Pengetahuan, dalam Berfikir Secara Kefilsafatan, Editor dan Alih Bahasa: Sujono Sumargono. Yogyakarta: Nur Cahaya, 1984.

Roswantoro, Alim. “Logika Transendental Kant dan Implikasinya Bagi Kemungkinan Pengetahuan Islam” dalam al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies, Vol. 38, No. 2, Tahun 2000.

Russel, Bertnand. Sejarah Filsafat Barat: Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik Zaman Kuno Hingga Sekarang, Terj. Sigit jatmiko dkk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

Siswanto, Joko. Sistem Metafisika Barat: Dari Aristoteles Sampai Derrida. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998.

Stratherent, Paul. 90 Menit Bersama Kant. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2001.

Syāṭibī, al-. Al-Muwāfaqāt. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tt.

Zubaedi dkk. Filsafat Barat: Dari Logika Baru Rene Descartes Hingga Revolusi Sains ala Thomas Khun. Yogyakarta, Ar-Ruzz Media Group, 2007.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: