DISKURSUS ULANG TERHADAP NILAI SUBSTANSIAL DAN WAKTU SHALAT: SEBUAH CATATAN KRITIS ATAS GAGASAN SALMAN GHANIM


A. Introduction
Salah satu dari lima rukun Islam adalah shalat. Artinya, jika seseorang tidak melakukan shalat maka ia tidak bisa dikatakan muslim. Karena setiap sesuatu yang dinamakan rukun harus dipenuhi oleh setiap sesuatu yang mengikatkan diri terhadapnya. Selain itu, Karena pentingnya keberadaan shalat pada diri setiap muslim, Nabi Saw. mengibaratkannya sebagai tiang dari agama (baca: Islam). Sehingga, jika tiang tersebut rapuh, agama seseorang akan runtuh dari hatinya. Dengan demikian, shalat termasuk hal yang sangat esensial di dalam Islam.
Dalam pada itu, hampir seluruh pemeluk Muhammad mengetahui dan meyakini bahwa shalat yang diwajibkan kepada dirinya sebanyak lima waktu dalam sehari-semalam. Lebih jauh lagi, mereka pun meyakini bahwa hal tersebut berdasarkan sumber yang sangat otoritatif, yakni al Qur’an dan Sunnah Rasul.
Terkait dengan persoalan di atas, M. Salman Ghanim, seorang intelektual muslim kontemporer berlatar belakang ekonomi, hadir dengan melontarkan tawaran kritis tentang kajian ulang waktu dan hakikat shalat. Yang mana, lontaran wacana tersebut berlainan dengan apa yang diyakini oleh khalayak muslim pada umumnya. Sehingga dengan berlatar belakang akademis demikian, konstruksi pemahamannya tentang tema tersebut sangat penting untuk dikaji. Selain untuk menyemarakkan dialektika wacana ke-Islam-an, kajian ini juga bertujuan untuk mengetahui sekaligus melakukan kritik terhadap epistemologi pemikirannya.
Untuk memudahkan analisa, catatan kritis ini akan diawali dengan pengantar yang berisikan betapa pentingnya tema ini untuk diperbincangkan. Untuk lebih mengenal sosok M. Salman Ghanim, kisah singkat tentang dirinya akan dideskripsikan setelahnya. Selepas itu, konstruksi kajian ulangnya tentang tema ini akan diulas sebelum memberikan catatan kritis. Sedangkan sebagai penutup catatan ini adalah kesimpulan dan saran penulis.
B. The Short Background of M. Selman Ghanim
Muhammad Salaman Ghanim merupakan nama lengkap dari pemikir muslim Kuwait kontemporer ini. Meski berlatar belakang ekonomi, Ia adalah salah satu pegiat Qur’anic studies yang mempunyai gagasan-gagasan nakal sekaligus brilian hingga mengguncangkan masyarakat sekelilingnya. Guncangan paling dahsyat terkait dengan pemikirannya ia torehkan dalam karyanya yang berjudul Allah wa al Jama’ah. Karya tersebut sempat “di-meja hijaukan” oleh kalangan konservatif Kuwait yang kebakaran jenggot karena ulahnya. Namun, karena tuduhan pelecehan Islamnya tidak dapat dibuktikan, ia pun lolos dari jeruji besi yang mengancamnya.
Ide-ide nakalnya muncul lebih dilatar belakangi oleh ketidak puasannya terhadap fenomena kegamaan di sekelilingnya yang ia rasa sangat kaku, terlalu mengikat, dan serba keterlaluan. Ketidak puasan tersebut membangkitkan nalar kritisnya untuk menggali sedasar mungkin guna menemukan jawaban dari berbagai kegelisahan dalam benaknya. Sampai akhirnya, ia pun benyak menemukan yang menurutnya sebuah ketidak sejalanan antara realitas masyarakat status quo dengan realitas sumber aslinya.
Ketekunannya dalam mengkaji al Qur’an berbuah berbagai karya yang di antaranya adalah; Qira’ah fi al Qur’an al Karim: Wijhah Nazhar Iqtishadi, Allah wa al Jama’ah, al Qur’an wa al Iqtishad al Siyasi, dan juga berbagai artikel yang pernah ia publikasikan dalam majalah al Thali’ah Kuwait. Yang mana, berbagai artikel tersebut telah dikumpulkan ke dalam sebuah buku yang berjudul Min Haqaiq al Qur’an. Karya terakhir ini telah diterjemahkan oleh Kamran Asad Irsyadi ke dalam bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS).
C. The Time and Essence of Praying on M. Selman Ghanim Perspective
Dalam benak kebanyakan umat Islam, shalat yang diwajibkan kepadanya dalam sehari semalam adalah lima waktu. Yakni, shubuh, dhuhur, ashar, maghrib, dan isya’ dengan perincian jumlah rokaat masing-masing. Perintah ini disyariatkan pasca spiritual tour-nya Nabi Saw. yang lebih dikenal dengan isra’ dan mi’raj. Dalam pada itu, Salman Ghanim meragukan hal tersebut. Karena menurutnya kejadian isra’- mi’raj masih simpang-siur dan bertentangan dengan logika akal. Di samping itu, banyak sekali sisipan israiliyyat yang mewarnai kisah tersebut.
Terkait dengan persoalan waktu shalat, Salman Ghanim mengkritik habis pandangan para ulama. Menurutnya, shalat yang diwajibkan hanya dua waktu dalam sehari semalam. Pendapat ini ia dasarkan pada QS. Hud, 11:114. selain itu, ia juga memperkuat argumentasinya dengan QS. Al Isra’, 17:78. Yang mana, ia berkesimpulan bahwa waktu shalat pertama adalah dari terbenamnya matahari hingga gelap malam (isya’) dan yang kedua adalah mulai fajar hingga terbitnya matahari (subuh) dan bisa molor hingga waktu dluha.
Selain melaului jalur penafsiran terhadap teks otoritatif, Salman Ghanim juga mengkaji hal ini melalui pendekatan historis. Menurutnya, nabi-nabi sebelum Muhammad juga melakukan hal yang sama (shalat 2 waktu), seperti halnya Nabi Dawud, Ibrahim, dan juga Zakariya yang menyerukan umatnya untuk melakukan hal tersebut.
Dalam persoalan ini, para ulama’ juga mengamininya. Akan tetapi, Salman Ghanim mengkeritik pemahaman di-naskh-nya syari’at ini dengan kejadian spiritual tour-nya Nabi Saw. Karena dari awal ia sudah mengaggap bahwa kisah tersebut tidak masuk akal. Selain itu, ia juga memperkuat argumentasinya dengan menyandarkan pada kalangan ulama’ yang tidak sepakat dengan adanya prinsip naskh dalam persoalan hukum.
Tidak berhenti pada titik itu, Salman Ghanim juga mempertanyakan ke-tidak ada-annya sunnah ba’diyah pasca ritual shubuh dan ashar. Selain itu, ia juga membandingkan dengan shalat ala kaum khawarij yang secara nominal waktu dan istilah sejalan dengan gagasannya. Sedangkan dalam persoalan QS. Al Baqarah, 2:238, ia menafsirinya dengan bahasa shalat yang paling istiqamah dan i’tidal, bukan waktu shalat sentral di antara kedua waktu di atas.
Dengan hanya dua waktu saja, Salman Ghanim menganggap bahwa hal ini relevan dengan pandangan Islam untuk mendahulukan kerja dari pada ibadah, karena shalat adalah tradisi sementara bekerja adalah ibadah. Sehingga, di tengah kompleksitas kehidupan kontemporer dan krusialitas kerja yang menuntut jam kerja panjang dan sudah diatur, kewajiban shalat lima waktu merupakan pembebanan yang tidak praktis dan dikeluhkan banyak pihak.
D. The Critical Note
Kejelian M. Salman Ghanim dalam menguliti persoalan di atas cukup jeli. Dengan berbagai pendekatan mulai dari sejarah, bahasa, sosial, dan juga ekonomi ia terapkan. Sehingga kesimpulan yang ia dapatkan cukup kompetetif. Akan tetapi ada beberapa kelemahan yang menurut penulis merupakan kelalaian dia dalam menganalisanya. Pertama, ia tidak konsisten dalam meggunakan dasar. Di satu saat ia menyandarkan argumentasinya pada hadis, namun di sisi lain menanggalkan kajian terhadap hadis.
Kedua, ia juga tidak konsisten dalam melihat dasar ayat. Sepertihalnya dalam persoalan isra’ dan mi’raj. Menurut penulis, kisah tentang spiritual tour-nya Nabi Saw. tidak bisa diukur dengan standart logika akal. Karena memang kejadian tersebut merupakan bagian dari kemukjizatan Nabi Saw. Sehingga, sangat wajar jika akal tidak mampu untuk merasionalisasikannya. Sedangkan persoalan israiliyyat, kisah ini merupakan kabar yang sempat menggemparkan masyarakat sekitar kala itu. Hingga kaum muslimin pun banyak yang keluar dari Islam karenanya. Keunikan kisah tersebut menjadikan seseorang menggunakan bahasa (baca: mentransformasikan) dengan bahasa lain dalam menceritakan dan menjelaskannya. Yang mana hal tersebut dapat dipastikan mengandung unsur sisipan-sisipan dari pencerita. Akan tetapi, terlepas dari bentuk kisah tersebut, Allah telah mendokumentasikannya dalam QS. Al Isra’, 17:1.
Ketiga, ia terlalu euphoria ketika mengkritik banyak pandangan. Menurut penulis, pendapat seseorang tidak bisa dihakimi keliru begitu saja. Akan tetapi, perlu dibahasakan dengan sopan sehingga tidak terkesan benar sendiri. Akan tetapi hal ini sangatlah wajar, karena kondisi masyarakat yang ia hadapi sangat memprihatinkan dalam pandangannya.
Selain itu, masih banyak kelemahan-kelemahan lain yang menurut penulis perlu dikaji dan diteliti secara mendalam sehingga akan menghasilkan dialektika wacana keislaman yang hidup dan berkembang.
E. Closing
Sebagai sebuah kesimpulan dari pembacaan ini, Salman Ghanim mengaggap bahwa konstruksi waktu shalat yang menjadi mainstream para ulama tidak sesuai dengan sumber yang otoritatif. Oleh karenanya, ia berkali-kali menegaskan bahwa shalat yang diwajibkan hanya dua waktu dalam sehari-semalam. Sehingga, konstruksi semacam ini sejalan dengan pesan universal Islam sebagai agama yang humanistis.
Sebagai sebuah tawaran wacana, gagasan brilian M. Salman Ghanim patut diapresiasi. Meskipun di sana-sini masih banyak terdapat kelemahan. Dari pembacaan yang singkat ini, penulis berharap kepada para pembaca untuk lebih jeli dalam mengkaji tentang konstruksi pemikirannya. Baik dalam persoalan shalat maupun yang lain. Karena sangat tidak dewasa sekali jika hanya melakukan pembacaan sampai titik ini.
Wa Allah A’lam bi Muradih
Daftar Bacaan:
Bik, M Khudlary. Tt. Tarikh al Tasyri’ al Islamy. Surabaya: al Hidayah.
Dimyathy, M. Syatha’ al-. Tt. I’anah al Thalibin. Surabaya: al Hidayah.
Ghazaly, Abu Hamid al-. Tt. Ihya’ ‘Ulum al Din. Surabaya: al Hidayah.
Ghanim, M. Salaman. 2004. Kritik Ortodoksi: Tafsir Ayat Ibadah, Politik, dan Feminis. Terj. Kamran Asad Irsyadi . Yogyakarta: LKiS.
Dan Berbagai Referensi lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: