PROYEK STUDI AL-QUR’AN AL-JABIRI: SEBUAH PEMBACAAN AWAL


Zuhri Amin: “Paradigama tasfir kontemporer bukan seperti konsep atau tafsir pada umumnya seperti tergambar pada jurusan Tafsir dan Hadis. Paradigma tafsir kontemporer adalah paradigma studi Islam”

Al-Jabiri bukanlah nama yang asing bagi peminat studi keislaman kontemporer. Ia masyhur di kancah publik pasca peluncuran proyek besarnya yang berupa Naqd al-`Aql al-`Arab (1980-2001). Islamic thinker ini seringkali disejajarkan dengan tokoh-tokoh kenamaan, seperti; Hasan Hanafi, Nasr Hamed Abu Zayd, Mohammed Arkoun, Abdullah Ahmad al-Na’im, dan lain sebagainya.
Keprihatinannya atas gejala mengguritanya konstruk pemahaman al-Qur’an yang syarat akan nuansa ideologis telah mendorong al-Jabiri untuk melirik kajian al-Qur’an. Dalam pada itu, lahirlah proyek studi al-Qur’an-nya dengan berawal dari peluncuran pengantarnya yang berjudul Madkhal ilâ al-Qur’ân al-Karîm di tahun 2006. Setelah itu, ia menerapkan teori yang ia tawarkan dalam karya tafsirnya yang berjudul Fahm al-Qur’an al-Hakim: al-Tafsir al-Wadlih Hasb Tartib al-Nuzul. Dua jilid pertama karya ini di rileas pada Maret dan Oktober 2008, sedang jilid ketiga pada Maret 2009 lalu.
Dengan hadirnya serial karya tafsir ini, Laboratorium Studi al-Qur’an dan Hadis (LSQH) Fak. Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga bermaksud untuk menyambutnya dengan menggelar diskusi putaran VI. Putaran kali ini digelar pada Rabu (20/05) di Smart Room fak. Ushuluddin dengan tajuk “Mengenal M. Abed al-Jabiri dalam Proyek Studi al-Qur’an Kontemporer”. Hadir sebagai pembicara Direktur Laboratorium Akidah dan Filsafat “HIKMAH”, Dr. Zuhri Amin, M. Ag. dan Pemerhati karya-karya tafsir Drs. M. Mansur, M. Ag. dan dipandu oleh Mumtaz Ibn Yasa’ dari Community of Fiekrah (Coffe) sebagai moderator.
Dalam presentasinya, kedua pembicara sepakat jika menela’ah karya al-Jabiri tidak bisa terlepas dari sosok Ibn Khaldun. Zuhri mengatakan bahwa “menela’ah pemikiran al-Jabiri tentang al-Qur’an tidak bisa dilepaskan dari pemikiran-pemikirannya tentang sejarah, epistemologi, Islam dan modernisme, nalar Arab, filsafat, dan pemikiran-pemikiran lainnya. Oleh karena itu, mengenal al Jabiri yang harus anda ketahui adalah dua karya pentingya, yaitu thesis dan disertasi tentang Ibn Khaldun (Falsafat al Târîkh ‘inda Ibn Khaldûn dan al-Asabiyyah wa al-Dawlah; Ma`alim Nazaniyyah Khalduniyah fî al-Târîkh al-Islâmi, red.).”

Dalam pada itu, Zuhri menilai karya tafsir al Jabiri ini sangat tidak menarik jika dilihat secara sepintas. Karena bentuk tafsirnya sangat khas akan nuansa proses penurunan al Qur’an yang sudah jauh dikonstruk oleh para mufassir sebelumnya. Akan tetapi, “karya ini menjadi menarik karena al Jabiri sesungguhnya berkeinginan untuk mengungkapkan bahwa al-Qur’an, yang berjumlah 30 juz tersebut merupakan konstruk torehan para sahabat yang sangat brilian. Di mana hal tersebut sangat berimplikasi terhadap model keagamaan kita yang cenderung ortodoks, ideologis, dan terbelenggu. Karenanya al-Jabiri menyajikannya dengan pola ideografis, di mana tulisan al-Qur’an bukan di dasarkan atas kronologi, tetapi lebih pada wilayah ide-ide pokok di dalam al-Qur’an”, jelas pengagum Mohammed Arkoun ini.
Sementara itu, Mansur mengungkapkan bahwa “prinsip yang harus dipegang oleh sseeorang sebelum menafsirkan al-Qur’an menurut al-Jabiri adalah berupa; 1. Orisinilitas al-Qur’an, yakni al-Qur’an dalam era proses penurunan dan yang belum terkontaminasi oleh berbagai catatan pinggir serta komentar; 2. Menjadikan al-Qur’an kontemporer bagi dirinya sekaligus bagi diri kita; dan 3. Membaca al-Qur’an harus disertai dengan pembacaan terhadap sirah, dan begitupun sebaliknya”. Karenanya ia berkesimpulan bahwa “dengan karya-karya, termasuk serial studi al-Qur’an, al-Jabiri berusaha mencari yang politik dalam sesuatu yang agamis. Di mana hal ini sangat berlawanan dengan tradisi Eropa yang cenderung melihat yang agama dalam sesuatu yang politik.”
Lebih jauh, Zuhri memberi catatan akhir bahwa “jelas sekali saya menekankan bahwa membaca tafsir al-Jabiri tanpa pengetahuan yang mumpuni tentang pesan apa yang disampaikan oleh al-Jabiri hanya akan menunjukkan bahwa tafsir al-Jabiri adalah tafsir kering dan bahkan usang.” Untuk itu, saran Dosen Pengantar Studi Islam, “langkah pertama yang harus kita lakukan adalah dengan menyadari bahwa paradigama tasfir kontemporer bukan seperti konsep atau tafsir pada umumnya seperti tergambar pada jurusan TH. Paradigma tafsir kontemporer adalah paradigma studi Islam”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: