PARADIGMA INTERKONEKSI DALAM STUDI HADIS


Jamak diketahui dan diyakini dalam hati umat Islam, jika hadits merupakan sumber otoritatif yang kedua setelah kitab suci al Qur’an. Ia merupakan bentuk warta dari apa yang terjadi pada diri Nabi Saw. sebagai pembawa Islam yang dapat memahami sekaligus mengamalkan al Qur’an secara sempurna. Sehingga, beliau dapat dijadikan uswah hasanah dalam kehidupan pengikutnya.
Sebagai sebuah warta, tentu ia tidak bisa terlepas dari setting sosio-historis di mana ia muncul kali pertama. Karena, secara fundamental, apapun yang dikatakan oleh seseorang akan berhubungan dengan obyek yang diajak bicara (mukhatab) dan di mana dia berbicara. Sehingga, untuk memahami sesuatu yang dibicarakan oleh seseorang tidak bisa dilepaskan dari setting yang mengitarinya.
Di era sekarang, peredaran hadits bukan lagi dalam bentuk verbal (dari mulut ke mulut), melainkan sudah dalam bentuk naskah, baik di atas kertas maupun dalam bentuk digital. Secara kasat mata, ia datang kepada pembaca seakan tanpa iringan apapun juga. Akan tetapi, sacara hakikat ia datang dengan iringan banyak hal yang terkait dengannya. Sehingga, untuk memahaminya tidak serta-merta dibaca secara literal, melainkan harus dibaca pula sesuatu yang mengitarinya.
Dalam pada itu, berbagai pendekatan mulai dari linguistis, histories, antropologis, sosiologis, psikologis, bahkan gender sekalipun harus dipakai dalam upaya memahaminya. Sehingga, dengan paradigma demikian, pemahaman hadits yang komprehensif pun akan dapat tergapai. Inilah yang kemudian disebut paradigma interkoneksi dalam memahami hadits. Yakni, sebuah kinerja memahami hadits yang dilakukan dengan berbagai pendekatan di atas. Sedangkan disiplin keilmuan yang berkaitan dengan hal ini dinamakan Ilmu ma’any al Hadits.
Salah satu cabang dari studi hadits ini nampaknya secara praksis sudah dilakukan sejak zaman Nabi Saw. Akan tetapi, secara teoritis—dengan sebutan di atas—baru muncul belakangan ini. Karenanya, referensi yang secara teoritis membahas persoalan tersebut sangat jarang ditemukan. Inilah salah satu latar belakang digelarnya Diskusi dan Bedah Buku karya Abdul Mustaqim yang berjudul “Ilmu Ma’any al Hadits Paradigma Interkoneksi; Berbagai Teori dan Metode Memahami Hadits Nabi”, yang terbit pada Nopember kemarin, dengan tajuk “Studi Ma’any al Hadits dalam Paradigma Interkoneksi; Tela’ah atas Karya Abdul Mustaqim” pada diskusi bulanan Laboratorium Studi al Qur’an dan Hadits (LSQH) putaran III selasa (23/12) lalu di Smart Room pukul 09:30 WIB.
Dalam acara yang cukup padat tersebut, hadir sebagai pembicara penulis buku tersebut Dr. H. Abdul Mustaqim, M. A., Dosen Ma’any al Hadits Drs. Indal Abrar, M. Ag. sebagai pembedahnya, dan M. Yahya Zakariya, aktifis LinKar Ta-Hdits dan Coffee, sebagai moderator. Yang mana, kedua pembicara tersebut dinilai cukup imbang oleh salah satu peserta yang disampaikan ketika sesi dialog, dalam menyampaikan materi dan komentar-komentarnya. Karena, Mustaqim lebih membicarakan persoalan-persoalan teoritis, sedangkan Indal lebih berbicara pada wilayah kondisi real di masyarakat.
Dalam mendifinisikan disiplin keilmuan ini, Mustaqim mengatakan bahwa “Ilmu Ma’any al Hadits adalah Ilmu yang mengkaji tentang bagaimana memaknai dan memahami hadits Nabi Saw, ketika menyampaikan hadits, dan bagaimana menghubungkan teks hadits masa lalu dengan konteks kekinian, sehingga diperoleh pemahaman yang relatif tepat, tanpa kehilangan relevansinya dengan konteks kekinian”. Dari definisi ini, menurutnya “ada tiga variable yang harus dipetautkan secara triadic-dialectic dalam memahami sebuah hadits. Yaitu; author (pengarang), reader (pembaca), dan audience (pendengar). Yang mana tiga element tersebut juga terkait dengan banyak hal yang mengitarinya”, jelas Mustaqim dengan gamblang.
Dengan model tersebut, Mustaqim memasukkan pendekatan hermeneutis dalam wilayah studi hadits. “Inilah yang secara teoritis relatif baru di kalangan pengkaji hadits”, nilai Indal. Karena, “selama ini pada dasarnya memang para pengkaji hadits sudah mengaplikasikannya. Akan tetapi, kebanyakan mereka masih enggan untuk menyebutkan kata tersebut”, jelas Mustaqim.
Sebagai sebuah karya dalam disiplin keilmuan yang masih relatif baru dalam dataran studi hadits, “buku ini ditujukan untuk khalayak masyarakat. Terlebih para pengkaji hadits dan juga para penceramah yang setiap di atas podium hampir tidak perah lepas dari pembacaan hadits”, ungkap Mustaqim. Karena “dengan membaca karya ini, paling tidak para penceramah akan lebih hati-hati dalam menyampaikan dan menjelaskan suatu hadits kepada masyarakat luas. Paling tidak, guna meminimalisir pemahaman yang kurang tepat dalam hal keagamaan yang pada umumnya lebih disebabkan oleh ketidaktahuan tentang persoalan ma’any al hadits”, ungkap moderator semabari menutup acara.

 

Iklan

4 Comments »

  1. 1
    Dr.abdul muatqim Says:

    Terimakasih mas Yahya, atas promonya, moga jadi amal baik anda. Jazakumullah khaira.
    Terus berkarya

  2. 3
    hedhri nadhiran Says:

    Assalamu’alaikum…

    Mas, mau minta tolong… bisa gak bantu saya dapatkan buku Abdul Mustaqim yang berjudul “Ilmu Ma’any al Hadits Paradigma Interkoneksi; Berbagai Teori dan Metode Memahami Hadits Nabi dan buku karya M. Alfatih Suryadilaga, Aplikasi Penelitian Hadis: Dari Teks ke Konteks”. kebetulan saya skrg ngajar hadis di IAIN Palembang..saya sdh cari di toko buku di palembang, jg di TB online, tapi gak ada semua..
    Mohon bantuannya…
    Hedhri N.


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: