TIPOLOGI PENAFSIRAN ALQUR’AN KONTEMPORER ALA ABDULLAH SAEED


Di tengah kesibukan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga memasuki masa KPRS, Laboratorium Studi al Qur’an dan Hadits (LSQH) Fak. Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga tetap konsisten dengan komitmennya untuk meramaikan panggung dialektika wacana Fak. Ushuluddin. Komitmen tersebut ia telorkan dengan menggulirkan diskusi putaran IV pada Selasa (03/02/09) pukul 10:00 WIB di Smart Room Fak. Ushuluddin. Hadir dalam event tersebut alaumni Otto-Friedrich Universitaet Bamberg Germany Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, MA.
Berbicara persoalan al Qur’an memang tidak akan pernah ada habisnya. Perubahan demi perubahan metodologi terus dikembangkan oleh para pakarnya. Tidak hanya di Timur, di Barat pun al Qur’an marak dikaji oleh para sarjana kenamaan, baik muslim maupun non muslim.
Pada Putaran kali ini, tajuk yang diangkat adalah “Dinamika Studi al Qur’an di Barat; Studi atas Epistemologi Penafsiran Abdullah Saeed”. Dalam presentasinya, Sahiron mengungkapkan rasa kekagumannya terhadap tokoh kenamaan di University of Melbourne Australia ini atas segala prestasi intelktualnya. “Saya kagum dengannya, di usianya yang muda, ia sedah menelorkan bnayak karya”, ungkapnya sembari menyarankan peserta untuk segera melalukakan “pertaubatan bahasa” Inggris. Menurutnya, Tipologi yang dibangun oleh Abdullah Saeed dalam karyanya Interpreting the Qur’an tidak jauh berbeda dengan tipologi yang ia buat dalam artikelnya yang telah ia presentasikan dalam sebuah Stadium Generale yang digelar oleh Fak. Ushuluddin dalam rangka pembukaan tahun ajaran baru pada tanggal 03 September 2007 silam.
Akan tetapi, jika ilmuan kelahiran Cirebon ini menggunakan istilah quasi obyektivis tradisionalis, quasi subyektivis, dan quasi objektivis modernis, Saeed menggunakan istilah tekstualis, semi-tekstualis, dan kontekstualis. “Kelompok tekstualis meyakini bahwa makna al Qur’an itu sudah fixed dan harus diaplikasikan secara universal. Kelompok salafi termasuk penganut tipologi ini. Sedangkan semi-tekstualis beruasaha membela makna literal al Qur’an dengan cara memakai idiom-idiom modern dan argumentasi rasional. Termasuk tipologi ini adalah kelompok al-Ikhwan al-Muslimun di Mesir dan Jama’at Islami di India”, jelas alumni Krapyak dengan gamblang. Dalam pada itu, lanjut Sahiron, “Kelompok kontekstualis menegaskan bahwa kita harus memahami al Qur’an dengan tidak menyampingkan konteks politik, sosial, historis, budaya, dan ekonomi di mana al Qur’an diturunkan, dipahami, dan diaplikasikan. Tipologi inilah yang diikuti oleh Fazlur Rahman, Nasr Hamd Abu Zayd, dan juga Abdullah Saeed Sendiri”.
Sementara itu, Dosen Hermeneutika Fak. Ushuluddin ini menilai bahwa menurutnya ada tipologi penafsiran yang tidak bisa ter-cover dalam kategori yang dibuat oleh Abdullah Saeed. Yakni kelompok subyektivis seperti halnya M. Shahrur yang menekankan pada subyektivitas penafsir.
Dalam akhir presentasinya, Dosen yang sangat disegani mahasiswa Fak. Ushuluddin ini mengungkapkan bahwa banyak peluang bagi mahasiswa Tafsir dan Hadits untuk meniliti Abdullah Saeed. Karena hingga saat ini hanya satu skripsi yang baru muncul tentang tokoh tersebut. Itu pun baru di-munaqosyah-kan 30 Januari 2009 kemarin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: