Archive for the ‘Kalamuna’ Category

SQH, Hendak Kemanakah Gerangan…? “Sebuah Pencarian Arah Studi”

24 Februari 2012

Oleh: Mohamad Yahya

A.  Sekedar Ngoceh nGalor-nGidul (Boleh Dilewat Bro…)

Dini hari senin (22/11/2010) itu, pada saat jam digital mobile phone menunjukkan angka 03:31 WIB, jemari kedua tangan penulis kembali menekan key board si Compaq tipe CQ40-321TU, yang dalam alam pikiran penulis sudah muali jadul seiring dengan perkembangan komputer jinjing yang tahapannya hampir dalam hitungan detik, setelah istirahat dari lemburan sehari-semalam. Lima puluh menit sebelumnya, pasca-penulis “berimajinasi-ria” dengan memutar India movie yang berjudul Jodi, lemas bercampur berat penulis rasakan untuk segera bangun dari kasur kusut di kamar kos itu. Dalam kondisi ketidakberdayaan, alam pikir penulis terbawa terbang dengan ingatan tentang aktivitas kuliah, lebih spesifik absurditas rancangan diskusi luar kelas, di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga yang—dalam kacamata sederhana penulis—belum menunjukkan taringnya—jika itu dianggap seperti macan Merapi yang “katanya” berbondong-bondong turut ngungsi karena takut dengan si Mbah “Petruk” wedhus gembel. Perenungan yang tidak jelas arah itu akhirnya tersadar oleh ingatan penulis perihal belum shalat Isya’, sementara waktu menunjukkan pukul 03:10 WIB. Yeach, ini sekedar basa-basi yang penulis gunakan untuk mengantar catatan kecil hasil renungan penulis selama kurun waktu kurang dari 30 menit.

B.  Nasib “Prihatin” Pemikiran Keagamaan: Sebuah Renungan

Religion tentu tidak sama dengan religious. Pemikiran agama dan pemikiran keagamaan juga senasib dengan dua kata di depan. Pemilahan ini jelas kentara, tetapi acap kali tidak terlihat karena ter-hijab oleh kacamata hitam yang disebut dengan “close minded”. Bukan bermaksud “menghakimi”, “mengecam”, “menghujat”, “merendahkan”, dan mungkin lebih keji dari itu, “melarang”, namun dalam hal ini maksud penulis adalah mengajak berenung dengan nasib “prihatin” yang dialami oleh pemikiran keagamaan di era sekarang. Keprihatinan di sini bukan seperti masyarakat Merapi, yang hidup di desa si Mbah Marijan, Allahumma Ighfir lahu, itu, tetapi lebih pada nasib jurusan-jurusan studi agama dan keagamaan yang kian hari, kian (seperti)-(nyaris) hilang di balantika perkampusan Indonesia. Lha ko’, apa hubungannya dengan pemikiran kegamaan?

Logika opini—sebagaimana tertera pada sub-judul “B”—di atas sederhana. Pertama, penulis menganggap penyebab dari keprihatinan itu di antaranya:

  1. Mengguritanya pragmatisme cara berfikir masyarakat dalam hal orientasi studi di perguruan tinggi;
  2. Anggapan “final” atas pemikiran keagamaan akibat tidak dibedakannya dengan istilah agama itu sendiri;
  3. Gurita fanatisme “madzhab” paradigma pemikiran keagamaan; dan
  4. Stagnasi pemikiran keagamaan yang cenderung melangit.

Kedua, akibat yang timbul dari empat penyebab itu di antaranya berupa:

  1. Jurusan-jurusan studi agama dan keagamaan menjadi sepi peminat;
  2. Tidak adanya inovasi baru yang lebih kreatif;
  3. Perdebatan yang berbentuk mujadalah tak beradab, yang seharusnya musyawarah dengan nuansa munadzarah; dan
  4. Alam pikiran publik laksana—meminjam bahasa ahmad Munif—si Cebol yang bermimpi memeluk rembulan, di satu sisi, laksana WC yang akan dijenguk jika memang membutuhkannya, di sisi yang lain.

Kesemua fenomena tersebut selanjutnya berujung pada asumsi di atas, yang dalam bahasa penulis disebut dengan “ nasib prihatin”.

Lantas, apakah hal demikian termasuk pula kelas Studi al-Qur’an dan Hadis “B”? dari berbagai aspek jawabannya “ya”. Selanjutnya, apa konsep yang akan ditawarkan, terlebih kaitannya dengan absurditas diskusi luar kelas? Jawabannya ada pada sub bab selanjutnya.

C.  Lagi, Membumikan “Pembumian” Studi al-Qur’an-Hadis: Sebuah Tawaran

Sub judul tersebut tidak bermaksud “lebaiesasi.com”, tetapi hanyalah kebetulan yang ditemukan adalah rangkaian kata itu. Pada saat penulis bingung dengan redaksi sub judulnya, seketika kedua mata ini terfokus pada buah tangan Quraish Shihab, “Membumikan al-Qur’an”, yang terletak di rak buku persis di depan penulis. Tetapi, jangan salah lho…!!, redaksi tersebut sangat filosofis, je. Maksud hati penulis demikian, apa yang dilakukan oleh Saudara laki-lakinya  Najwa Shihab tersebut, menurut penulis masih belum “benar-benar” membumikan al-Qur’an secara menyeluruh, karena apa yang ada di dalam buku tersebut masih didominasi oleh perihal teoritis yang melangit. Hemat penulis, alur pembicarannya membaca persoalan masyarakat dengan standart al-Qur’an, dan bukan membaca al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat. Sudah barang tentu, jika demikian alurnya maka persoalan yang terkait dengan al-Qur’an secara teoritis menjadi sajian permulaan. Karenanya, dalam hemat penulis, “pembumian lagi” harus dilakukan atas usaha “pembumian” yang telah dilakukan mufassir Indonesia tersebut.

“Pembumian” dalam konteks SQH, jelas berbeda dengan “pembumian” pendiri Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) tersebut. Karena, telah menjadi kejelasan jika konteks SQH adalah perguruan tinggi tingkat pascasarjana, dan melihat juga pada aspek kepentingan diskusi di luar perkuliahan, sedangkan Quraish Shihab, konteksnya adalah masyarakat umum. Pada sisi perguruan tinggi, jelas bahwa kesadaran akan nasib prihatin di atas adalah perihal yang harus ditancapkan dalam hati sedamalam sumur sat, terlebih SQH ada di level pascasarjana. Sedang pada sisi kepentingan eksistensi diskusi di luar kelas adalah pendalaman, pengembangan, rekonstruksi-dekonstruksi, inovasi, dan bahkan gengsi pemikiran keagamaan, yang dalam hal ini kajian al-Qur’an dan hadis.

Dalam sebuah Seminar Internasional yang digelar Juli lalu dengan tema, Islamic Theology and Philosophy in a New Direction: Its Contribution to Humanity and Nationality, mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga, Amin Abdullah, berpandangan bahwa di era sekarang, ushuluddin (pemikiran keagamaan, pen) harus mampu menjawab tantangan kehidupan masyarakat, di mana hal tersebut sudah barang tentu, salah satunya, harus merubah cara pandang dan konstruksi serta arah kajiannya dengan tanpa tercerabut dari landasan keilmuannya. Secara panjang lebar ia menggambarkan betapa keilmuan ushuluddin sangat dibutuhkan masyarakat jika mampu melakukan penyesuaian-penyesuaian. Namun demikian, nampaknya seminar hanyalah S‘E’MI-t‘e’NAR. Perubahan tidaklah kunjung datang laksana lirik lagu pribumi, “Bang Toyyib”, yang kali puasa tiga kali lebaran abang tak pulang-pulang.

Berangkat dari apa yang menjadi pandangan Amin Abdullah, penulis menegaskan jika SQH—lebih spesifik diskusi di luar kelas—tidak mampu merubah cara pandang dan konstruksi serta arah kajiannya dengan tanpa tercerabut dari landasan keilmuannya, maka lambat laun SQH hanya akan menjadi sejarah yang sering kali dilupakan oleh generasi bangsa ini. Wah, sombong sekali si penulis…!!! Tidak se-“angker” itu maksud hati si penulis, tetapi lebih pada bagaimana seharusnya SQH mampu menawarkan hasil kajian-kajian baru dengan tanpa keluar dari landasan fundamental keilmuannya, yakni al-Qur’an dan Hadis. Sebaliknya, jika mampu melakukannya, sudah barang tentu sejarah keharuman SQH akan menebar dan sekaligus memotivasi generasi berikutnya.

Contoh kajian yang sederhana adalah melakukan pembacaan atas al-Qur’an dan hadis yang inheren dalam bingkai kehidupan masyarakat. Pendekatan yang digunakan bisa saja berupa teori optik garapan Fred W Riggs. Teori tersebut mengiaskan pesan sebagai cahaya yang masuk ke prisma (segi tiga). Selain sebagai pemantul cahaya, prisma juga memantulkan dirinya sendiri sebagai pelakunya. Dalam teori tersebut, Riggs membagi masyarakat menjadi tiga varian; tradisional (paguyuban), prismatik, dan modern (patembayan). Riggs menilai masyarakat tradisional (memusat) sebagai masyarakat askriptif, partikularistik, dan kekaburan. Menurutnya, model masyarakat tradisional cenderung memandang dunia hanya dari sudut pandang kekeramatan, supranatural, pandangannya hirarkis, dan lingkungannya dipenuhi upacara-upacara. Adapun masyarakat modern (memencar), dalam pandangan Riggs, merupakan hubungan antarpribadi yang bersifat terbuka, proliferasi, dan organis. Sedangkan masyarakat prismatik, oleh Riggs diletakkan di antara dua model masyarakat sebelumnya, di mana pluralitas budaya dan sosial dalam masyarakat prismatik akan memantulkan pesan dari bentuk memusat menuju memencar. Masyarakat jenis demikian, dalam penilaian Riggs tidak lagi mempertontonkan prilaku secara dikotomis. Relevankah teori ini untuk membaca  objek kajian di atas?

Terinspirasi dengan kuliah beberapa pekan kemarin bersama Hamim Ilyas, yang mengatakan jika pilihan menjadi fundamentalis-ekstrim secara umum adalah mereka-mereka yang mengenal Islam baru seumur jagung, contoh yang lain adalah relevansi penggunaan teori psikoanalisa dalam memahami gejala dan praktik keagamaan dalam bingkai pemahaman terhadap teks. Teori psikoanalisa mengatakan bahwa seorang anak manusia berkembang melalui tiga fase yang bergulir secara berurutan. Tiga fase tersebut adalah fase the real (yang riil), fase imajiner (imaginary), dan fase simbolik (symbolic). Masing-masing fase memiliki kondisi dan kecenderungan tingkah laku yang berbeda. Fase real, kondisi dan kecenderungannya adalah kebutuhan (need), seorang anak murni mengembalikan apa yang menjadi kebutuhannya kepada seseorang yang ada di dekatnya, dalam hal ini biasanya seorang Ibu. Setelah itu ia akan memasuki fase imajiner, kondisi dan kecenderungannya adalah mirror stage (tahap kaca). Dalam tahap ini seseorang akan mulai mengenali siapa saya dan siapa dia melalui kaca tersebut. Pada tahap terakhir, yakni simbolik, seorang anak memilki kondisi dan kecenderungan untuk diakui secara otonom. Karenanya, ia pun meneguhkan identitasnya melalui tingkah laku, yang jika dipahami oleh orang dewasa terakadang terkesan aneh. Relevankah teori ini dengan kajian al-Qur’an dan hadis? Semisal untuk membaca kisah Ibrahim dalam mencari dan mengenal Tuhan-nya? Atau untuk membaca gejala keagamaan masyarakat muslim fundamentalis-ekstrimis? Dan seterusnya. Ko’ jadi tambah mumet dan tidak terarah…? Namanya juga hasil ngayal, je.

Okelah, biar tidak memusingkan…!!! Pada intinya di setiap kajian SQH, penggunaan teori—meskipun dalam tahap uji coba—dan pemilihan model serta objek kajian adalah perihal mendasar dan sangat penting. Terlebih jika SQH memiliki angan untuk mem-publish hasil kajiannya di masyarakat, apakah kemudian apa yang akan dihadirkan adalah hasil-hasil kajian yang jadul? Tentu penerbit buku pun tidak akan meliriknya. Nah, persoalan baru dan tidak baru, yang menjadi catatan penting di sini adalah kembali kepada garis-garis aturan apa yang disebut dengan nuansa “ilmiah-akademik”. Bagaimanakah memulainya? Tentunya butuh proses panjang. Classification and explain, kata Hamim Ilyas, adalah syarat mutlak untuk gelar Master SQH! Hmmm….sudah capek ngayalnya…. Wa Allah A’lam bi al-Shawab.

 

Bantaran X-Gadjah Woeng

22 Nopember 2010

Pukul: 07:12 WIB

Iklan