Archive for the ‘Soal Teknik Hidup’ Category

MERAIH PRESTASI DALAM TITIK KESEIMBANGAN KEGIATAN INTRA DAN EKSTRA

23 Februari 2012

Oleh: Mohamad Yahya

Sukses studi di tingkat perguruan tinggi tidak hanya diukur dari hitam di atas putih. Karena tidak sedikit mahasiswa yang memiliki Indek Prestasi (IP) tinggi tetapi gagap pada saat menghadapi ragam problem kemasyarakatan. Sebaliknya, sukses studi di tingkat perguruan tinggi juga tidak hanya diukur dari sejumlah kegiatan ekstra kampus yang ia ikuti. Karena banyak di antara mantan aktifis organisasi yang mengalami kendala administrasi pada saat memasuki realitas dunia kerja. Akan tetapi, secara umum tipologi keduanya berpegang pada masing-masing kepercayaan dan komitmennya. Bagi para akademisi (sebutan untuk mahasiswa yang berkarakter tipe pertama), kuliah adalah sebuah kewajiban yang sangat fundamental. Jumlah presensi lengkap, tugas kuliah diselesaikan, IP tinggi, selesai tepat waktu, dan saat wisuda orang tua bahagia adalah proses yang dicita-citakan. Sedangkan bagi para aktifis (sebutan untuk mahasiswa yang berkarakter tipe kedua), belajar tidak hanya di bangku kuliah, terbentuknya kepribadian yang cakap dari berbagai kegiatan ekstra, melakukan pengawasan yang ketat atas kebijakan kampus, masa kuliah yang panjang, dan tinggi rendahnya IP bukan persoalan, adalah life style yang dapat dibanggakan.

Dari dua tipologi yang bersebrangan tersebut, nampak jelas fenomena kehidupan mahasiswa. Apabila ia termasuk dalam kategori pertama maka jalan yang ia  lalui selama masa kuliah hampir-hampir tidak jauh di antara kos dan kelasnya. Sedangkan jika ia termasuk dalam kategori kedua banyak jalan yang ia lalui selama masa kuliah, hampir-hampir tidak pernah nampak batang hidungnya di kelas. Tidak hanya aspek kepribadian, pada model pergaulannya pun tidak jauh berbeda. Mereka nampak memiliki kelompok pergaulan masing-masing. Sehingga pertukaran informasi pun menjadi kurang efektif. Kenyataan ini, diakui atau tidak,—dalam pengamatan penulis selama ini—telah menggejala dalam kehidupan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.

Adalah menjadi sebuah mimpi yang indah lagi mulia jika seorang mahasiswa lulus dengan indeks prestasi tinggi, pakar dalam bidang keilmuannya, kepribadian yang mantap, dan jaringan luas. Jika ia menghadapi ragam problem masyarakat, ia akan mampu dengan cepat dan tanggap dalam menyelesaikannya. Pun juga demikian pada saat ia menghadapi dunia kerja, sebagai seorang mahasiswa berprestasi lagi berpengalaman tentu posisi ideal akan mudah ia dapatkan. Akan tetapi, pertanyaannya adalah; seberapa besar prosentase mahasiswa yang sadar akan pentingnya kedua hal tersebut? Tidak hanya berhenti pada titik sadar, seberapa besar juga prosentasenya yang memiliki keinginan untuk menjalani keduanya? Pun juga demikian, seberapa besar prosentase jumlah mahasiswa yang memiliki komitmen untuk menjalani keduanya? Terlepas dari persoalan jumlah tersebut, yang menjadi persoalan sesungguhnya adalah bagaiamanakah cara menyeimbangkan keduanya (kegiatan intra dan ekstra)? Terlebih pada saat ini, di mana dengan kebijakan 75% batas minimum kehadiran kuliah dan 14 tatap muka setiap mata kuliah dalam kalkulasi 2 sks, keberadaan waktu untuk mengikuti kegiatan ekstra semakin sempit. Akibatnya, kalau pun toh tetap mengikuti, tetap kurang efektif.

Dalam pada itu, penulis bermaksud untuk memberikan tawaran langkah guna menuju pada titik keseimbangan di antara keduanya. Di mana jika titik keseimbangan di antara keduanya tercapai dengan hasil yang maksimal, niscaya mimpi indah lagi agung di atas akan benar-benar menjadi sebuah kenyataan. Tawaran langkah tersebut adalah; pertama, mensinergiskan kegiatan ekstra degan kegiatan intra. Artinya, bentuk kegiatan-kegiatan ekstra yang diikuti adalah kegiatan yang selaras dengan bidang keilmuan yang digeluti. Langkah ini, selain bertujuan untuk lebih membuka cakrawala pengetahuan tentang keilmuan yang digeluti, juga membuka jaringan tersendiri dengan pihak-pihak yang bergerak dalam bidang keilmuan tersebut. Sehingga, pada saat selesai studi, jaringan tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik. Kedua, membudayakan tradisi riset dalam setiap aktivitas kegiatan. Salah satu titik kelemahan mahasiswa pada saat ini adalah kemampuannya dalam mengupas ragam persoalan, baik di seputar tugas perkuliahan atau pun non-perkuliahan, seara objektif, kritis, dan komprehensif. Sehingga, fenomena yang terjadi adalah jika berhubungan dengan perkuliahan hanyalah sampai pada titik “pengguguran kewajiban”, sedangkan jika berhubungan dengan non-perkuliahan hanya bersifat having fun. Langkah ini bertujuan untuk mempertajam kemampuan diri mahasiswa dan pengetahuannya dalam bidang keilmuannya.

Akan tetapi, adalah menjadi catatan tersendiri jika dalam pembentukan mahasiswa ideal seperti di atas, sudah barang tentu tidak akan tercipta tanpa dukungan penuh dari pihak universitas terkait. Karena tradisi dan gaya hidup mahasiswa tidak akan terlepas dari bentuk kebijakan yang dibuat oleh pihak universitas. Dengan dukungan yang penuh dan kedaran serta komitmen yang tinggi, niscaya impian indah di atas akan benar-benar tidak hanya sekedar menjadi mimpi. Selain itu, nilai jual perguruan tinggi terkait pun akan semakin terangkat. Wa Allah A’lam bi al-Shawab.

Iklan